Senja datang menyambut malam di penghujung hari. Anak-anak mulai kembali kerumahnya masing-masing seteleh lelah bermain bola di lapangan. Kupu-kupu malam mulai riang menyambut kedatangan sang rembulan. Di salah satu sudut rumah bersalin, upacara penurunan bendera Merah Putih dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional ditayangkan dalam layar kaca hitam putih telah usai.
Ditengah penantian selama 9 bulan, Ibunda berjuang sekuat tenaga meregang nyawa, demi melahirkan buah hatinya. Ayahnda berdo’a, berharap dengan cemas dan was-was dibalik bilik. Anggota keluarga lainnya pun ikut berdo’a, menanti dan berharap dengan cemas. Seorang bidan yang dibantu perawat ikut membantu proses bersalin. Di akhir penantian itu, “Owekkk…. Owekkkk…” bunyi tangisan sang bayi terdengar membuat Ibunda dan ayanda tak kuasa ikut meneteskan airmata.
Pada hari Rabu 23 tahun yang lalu, lahirlah seorang bayi mungil dengan membawa fitrah dari Tuhannya, diiringi kumandang adzan dan iqomah di kedua telinga. Beribu ucapan selamat dan bahagia disampaikan, berjuta syukur dipanjatkan kepada Yang Kuasa. Dikala semua orang tersenyum menyambut kedatangannya, sang bayi hanya bisa menangis tanpa bisa berkata-kata.
Sudah 23 tahun, menurut kalender masehi, bayi itu kini hidup di dunia. Sudah 276 bulan, hidungnya telah bernafas. Sudah 1200 minggu, matanya telah melihat. Sudah 8400 hari sejak tahun ’84, telinganya telah mendengar. Dan sudah hampir seperempat abad jantungnya telah berdegub.
Suatu ketika Imam Ghazali pernah bertanya kepada muridnya ”Apa yang paling berat didunia?”. Murid pun bersahutan menjawab “Baja”, “Besi”, “Gajah”. Bukan baja, bukan besi, bukan pula gajah. Tapi yang paling berat menurut Iman Ghazali adalah MEMEGANG AMANAH. Ya.. kehidupan ini adalah amanah. Manusia hidup untuk menanggung amanah menjadi hamba dan ‘khalifah’.
Arghh… aku begitu payah, aku begitu lemah, tak kuasa menanggung amanah. Ah.. untuk apa aku berkeluh kesah. Apakah keluh kesah akan menyelesaikan masalah? Bukankah lebih ber-muhasabah.
Ya Allah.. betapa jalan yang kulalui ini tidaklah mudah. Aku selalu tersandung dan terjatuh dalam lubang kemaksiatan. Lalu berusaha bangkit meskipun sambil tertatih untuk kembali ber’jalan’. Entah berapa kali ku mohon ampun, namun sudah entah berapa kali jua aku melanggar.
Tuhanku.. ampunkanlah segala dosaku
Tuhanku.. maafkanlah kejahilan hamba-Mu
Kusering melanggar larangan-Mu dalam sadar ataupun tidak
Kusering meninggalkan suruhan-Mu walau sadar aku milik-Mu
Bilakah diri ini kan kembali kepada fitrah sebenar
Pagiku ingat petangku alpa begitulah silih berganti
Oh Tuhanku.. kau pimpinlah diri ini yang mendamba cinta-Mu
Aku lemah.. aku jahil.. tanpa pimpinan dari-Mu
Kusering berjanji depan-Mu.. sering jua ku memungkiri
Kupernah menangis karena-Mu.. kemudian ketawa semula
Kau Pengasih.. Kau Pengampun.. Kepada hamba hamba-Mu
Selangkahku kepada-Mu.. seribu langkah Mu padaku
Tuhan diri ini tidak layak ke surga-Mu
Tapi tidak pula aku sanggup ke neraka-Mu
kutakuk kepada-Mu.. kuharap jua padamu
Moga ku kan selamat.. dunia akhirat.. seperti Rosul dan sahabat



ceritanya ultah ni Chai…
makan2 kk
met ultah Cay
otanjoubi omedeto chai,,,
amin buat doanya..:)
Barakallah, Best wishes, and enjoy aging… Mr. 13 days younger.
wah… met milad..
*pas hari pendidikan ya?
Happee belated bird-day
Makan2™…
selamat hari pendidikan nasional cai
makan2
HAPPY BIRTHDAY, MAS…!!!
btw apa kabarnya nich..
otanjoubi omedetou :toot:
semoga tambah dapet berkah
waaaaaaah liat doanya jadi ngrasa tersindir

yayayaya…smoga dikabulkan doa2nya
oia, td ikutan nyomot resignation letternya
makasii sebelumnyah