rtorrent – torrent client berbasis teks

19 05 2007

Buat para penikmat film yang punya profesi tambahan sebagai “penjahat bandwidth” pasti sudah sangat familiar dengan torrent. Tadi setelah muter2 di google, akhirnya dapet juga aplikasi torrent berbasis teks yang dapat berjalan sebagai background. Jadi klo mau donwload torrent, tinggal remote server/komputer yang punya bandwidth kenceng tapi ‘nganggur’, jalankan aplikasi dan tunggu hasil “panen”.. klo udah, tinggal pindahin ke HD eksternal atau laptop deh… duh.. betapa senangnya hidup ini 😀

Nah, aplikasi itu adalah rtorrent. Klo kata wiki sih,

rTorrent is a text-based ncurses BitTorrent client written in C++, based on the libTorrent libraries for Unices (Rakshasa’s own, not the sourceforge libtorrent), with a focus on high performance and good code.

Aplikasi ini berjalan di *nix dan *BSD (buat pengguna windows, mendingan pake yg GUI aja 😛 ). Klo sudah pernah menggunakannya, baru deh terasa ‘high performance’ nya… bener-bener mantab nih program.

Karena sudah ada yang membuat tutorial cara menginstallnya dan biar ga mubazir, mendingan langsung aja baca cara install rtorrent -yang dibuat oleh Tutorial Ninjas. Atau untuk pengguna ubuntu/debian, installnya gampang banget, tinggal jalanin perintah

apt-get install rtorrent

Untungnya untuk menjalankannya, juga sudah ada yang membuat tutorialnya, use rtorrent like a pro, dibuat oleh K.Mandla (salah seorang moderator di Ubuntu Forums).

Agar download bisa berjalan sebagai background, anda harus menginstall screen. Buat pengguna ubuntu/debian, install dulu dengan perintah :

apt-get install screen

klo udah ada file torrentnya, tinggal jalanin aja deh :

chaidir@ach:~/.bt$ screen rtorrent file.torrent

rtorrent_main.jpg

klo mau dijalankan sebagai background, tekan Ctrl+A+D :

nah.. klo mo liat lagi tinggal jalankan perintah

chaidir@ach:~/.bt$ screen -r

Untuk lebih lengkapnya liat aja ditutorial ini ya – use rtorrent like a pro

rtorrent.jpg

Nah.. gampang kan… ga perlu cape2 nungguin… udeh tinggal aja. Klo bandwidthnya gede sih, gpp ditungguin.. 😀

Kerennya lagi, rtorrent bisa di schedule.. jadi klo mo donload malem, tinggal di config aja file rtorrent.conf nya..

psssttt… klo download tuh sebaiknya jangan jam kerja, kesian yang lain.. soalnya torrent tuh rakus bandwidth 😛

mendingan jalaninnya pas weekend aja manfaatin bandwidth yang ‘nganggur’ 😀

Happy norrent…. 🙂

*Duh… dah lama nih ga ngeblog lagi..  apa kabar dunia? karena dah kerja sebagai ‘kuli’, ane sekarang dapet kerjaan yang gak abis-abis.. fyuh.. sempet2in dah ni ngeblog… semoga berguna ye… 😉

Advertisements




2 Mei

2 05 2007

Senja datang menyambut malam di penghujung hari. Anak-anak mulai kembali kerumahnya masing-masing seteleh lelah bermain bola di lapangan. Kupu-kupu malam mulai riang menyambut kedatangan sang rembulan. Di salah satu sudut rumah bersalin, upacara penurunan bendera Merah Putih dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional ditayangkan dalam layar kaca hitam putih telah usai.

Ditengah penantian selama 9 bulan, Ibunda berjuang sekuat tenaga meregang nyawa, demi melahirkan buah hatinya. Ayahnda berdo’a, berharap dengan cemas dan was-was dibalik bilik. Anggota keluarga lainnya pun ikut berdo’a, menanti dan berharap dengan cemas. Seorang bidan yang dibantu perawat ikut membantu proses bersalin. Di akhir penantian itu, “Owekkk…. Owekkkk…” bunyi tangisan sang bayi terdengar membuat Ibunda dan ayanda tak kuasa ikut meneteskan airmata.

Pada hari Rabu 23 tahun yang lalu, lahirlah seorang bayi mungil dengan membawa fitrah dari Tuhannya, diiringi kumandang adzan dan iqomah di kedua telinga. Beribu ucapan selamat dan bahagia disampaikan, berjuta syukur dipanjatkan kepada Yang Kuasa. Dikala semua orang tersenyum menyambut kedatangannya, sang bayi hanya bisa menangis tanpa bisa berkata-kata.

Sudah 23 tahun, menurut kalender masehi, bayi itu kini hidup di dunia. Sudah 276 bulan, hidungnya telah bernafas. Sudah 1200 minggu, matanya telah melihat. Sudah 8400 hari sejak tahun ’84, telinganya telah mendengar. Dan sudah hampir seperempat abad jantungnya telah berdegub.

Suatu ketika Imam Ghazali pernah bertanya kepada muridnya ”Apa yang paling berat didunia?”. Murid pun bersahutan menjawab “Baja”, “Besi”, “Gajah”. Bukan baja, bukan besi, bukan pula gajah. Tapi yang paling berat menurut Iman Ghazali adalah MEMEGANG AMANAH. Ya.. kehidupan ini adalah amanah. Manusia hidup untuk menanggung amanah menjadi hamba dan ‘khalifah’.

Arghh… aku begitu payah, aku begitu lemah, tak kuasa menanggung amanah. Ah.. untuk apa aku berkeluh kesah. Apakah keluh kesah akan menyelesaikan masalah? Bukankah lebih ber-muhasabah.

Ya Allah.. betapa jalan yang kulalui ini tidaklah mudah. Aku selalu tersandung dan terjatuh dalam lubang kemaksiatan. Lalu berusaha bangkit meskipun sambil tertatih untuk kembali ber’jalan’. Entah berapa kali ku mohon ampun, namun sudah entah berapa kali jua aku melanggar.

Tuhanku.. ampunkanlah segala dosaku
Tuhanku.. maafkanlah kejahilan hamba-Mu

Kusering melanggar larangan-Mu dalam sadar ataupun tidak
Kusering meninggalkan suruhan-Mu walau sadar aku milik-Mu

Bilakah diri ini kan kembali kepada fitrah sebenar
Pagiku ingat petangku alpa begitulah silih berganti

Oh Tuhanku.. kau pimpinlah diri ini yang mendamba cinta-Mu
Aku lemah.. aku jahil.. tanpa pimpinan dari-Mu

Kusering berjanji depan-Mu.. sering jua ku memungkiri
Kupernah menangis karena-Mu.. kemudian ketawa semula

Kau Pengasih.. Kau Pengampun.. Kepada hamba hamba-Mu
Selangkahku kepada-Mu.. seribu langkah Mu padaku

Tuhan diri ini tidak layak ke surga-Mu
Tapi tidak pula aku sanggup ke neraka-Mu

kutakuk kepada-Mu.. kuharap jua padamu
Moga ku kan selamat.. dunia akhirat.. seperti Rosul dan sahabat